Demokrasi dan Ilusi Kesejahteraan

Dwi Rahayu (Muslimah HTI Chapter Unair)

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 12 Februari 2013

Mahasiswa IPB Prositusi Online Dapat Fee 30 Persen

TEMPO.CO, Bandung - HF, pengelola bisnis seks online di Kota Bogor mendapat jatah 25-30 persen dari setiap perempuan di bawah umur yang berhasil dia "jual". "Misalnya dari transaksi Rp 1,5 juta, dia bisa mendapat Rp 500 ribu," ujar juru bicara Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Martinus Sitompul, saat ekspos kasus ini di kantornya, Senin, 11 Februari 2013.

Martinus menjelaskan, mahasiswa semester XII Insititut Pertanian Bogor itu memajang foto-foto berikut identitas singkat para wanita di bawah umur yang siap menjual jasa layanan seks via blog www.bogorcantik.blogspot.com. "Di blog itu, terakhir ada sembilan wanita berusia pelajar atau di bawah 18 tahun yang dikoordinasi tersangka," kata dia.

Namun, untuk bisa membeli layanan esek-esek salah satu wanita di bawah umur tersebut, peminat harus menghubungi HF melalui layanan obrolan internet aplikasi mIRC. Di situ klien bisa chatting negosiasi dengan HF untuk memilih cewek yang diinginkan, sekalian tawar-menawar harga.

"Kalau HF sedang chatting maka peminat bisa melakukan negosiasi dan tawar-menawar. Pelaku biasanya memakai nickname (nama samaran) berbau bisnis seks seperti 'germo' dan lainnya," kata Martinus. "Selanjutnya konsumen bersepakat dengan pelaku (HF) dan wanita yang bersangkutan untuk bertemu dan serah-terima uang di suatu tempat."

Martinus juga mengatakan bahwa polisi sudah menyelidiki bisnis haram HF sejak dua bulan lalu. Dengan cara menyamar, polisi berhasil mengontak dan bernegosiasi dengan HF melalui mIRC. Polisi juga akhirnya berhasil memancing dan menangkap HF bersama tiga wanita yang dijajakannya di kamar 5 Hotel Pangrango, Jalan Pajajaran, Bogor.

"Dari hasil sementara pemeriksaan, HF mengaku bekerja (menjadi germo prostitusi online) sendirian. Tapi kasusnya masih kami dalami. Diharapkan nanti dia bisa membeberkan blog-blog serupa lainnya kepada kami," kata Martinus.

Sementara itu, HF mengaku bahwa dia menjalankan bisnisnya sejak Desember 2012 lalu hingga akhirnya dia ditangkap, Jumat petang, 8 Februari 2013. "Rekrutmen awalnya ada teman (salah satu wanita) minta ke saya supaya dicarikan pelanggan. Lalu saya bantu dari teman ke teman," kata dia di Markas Polda.

Sejak Desember lalu, ia mengaku sudah berhasil menjual lima dari sembilan wanita yang mejeng di blognya kepada pria hidung belang. "Lima konsumen ini semuanya orang Bogor. Kelas karyawan, enggak ada pejabat. Dari satu cewek saya mendapat Rp 200 ribuan. Saya kerja sendirian," ujar HF.

Seperti diketahui, Jumat pekan lalu polisi menangkap HF bersama tiga wanita di bawah umur berinisial ST alias MY, 17 tahun, remaja putus sekolah warga Bogor, serta NU alias MA (16 tahun), dan DS alias DV (18 tahun) pelajar kelas 2 dan kelas 3 sekolah menengah kejuruan di Bogor. "Ketiga wanita di bawah umur statusnya saksi korban," kata Martinus.

Polisi kini menjerat HF dengan pasal 27 ayat (1) jo pasal 45 ayat (1) Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Juga dengan pasal 88 (pidana eksploitasi anak) Undang-Undang tentang Perlindungan Anak dan pasal 506 (tentang mucikari) Undang-Undang Hukum Pidana. []


Komentar :
Sistem DEMOKRASI semakin menunjukkan kerusakannya. dengan 4 pilar kebebasan yang dijamin demokrasi, salah satunya yaitu 'kebebasan berprilaku' menjadikan seseorang bebas berbuat apapun asal senang dan mendatangkan keuntungan materi. sistem buatan manusia ini telah menjadikan rusaknya generasi kita secara massal.
sungguh kita merindukan sebuah sistem yang diridhoi-Nya yang dengan aturan-Nya kehormatan perempuan dapat terjaga dan generasi visioner dengan aqidah islam yang kuat dapat terwujud secara massal.
KHILAFAH satu-satunya pilihan, DEMOKRASI mari tinggalkan!

Dari Abdullah bin Mas'ud ra Rasulullah saw. bersabda "apabila suatu negeri telah menampakkan secara terang-terangan riba dan zina maka mereka telah menghalalkan azab Allah turun atas mereka" (HR Ibnu Majah)

Minggu, 10 Februari 2013

CATATAN KECIL BI


Oktavia Nurul Hikmah
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR
Divisi Kajian Strategis 
Karisma Airlangga Islamic Student Institute


Siang hari, 19 April 2012

Bi sedang ngobrol dengan adik angkatan di kampus Ilmu Budaya UNAIR. Sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya)
Mawar  : ’’Aku pengen kerja kalo dah lulus Mbak”
Bi            : ”Kalo nikah, pengen gak?”
Mawar  : “ Pengen, tapi ngumpulin modal dulu lah. Nikah sekarang gak mudah n gak murah”
Bi       : “Iya, makanya banyak yang pilih free sex. Lebih mudah n lebih murah. Gak tau aja ntar pembayarannya di akhirat”
Mawar     :  “Heem. Ntar kalo dah nikah aku juga pengen tetap kerja Mbak”
Bi               : “ Kenapa?”
Mawar     : “Kalo ada apa-apa dengan pernikahanku, aku tetap bisa survive. Gak perlu menggantungkan hidup pada lelaki!” (tatapan matanya tegas, tangannya mengepal bak orang orasi, duduknya tiba-tiba tegak)

Malam Hari, 26 April 2012

Bi terpaksa pulang kampung malam ini. Hatinya dag dig dug tidak karuan. Memang betul, bukan fitrahnya perempuan kelayapan malam-malam. Bi merapatkan jaket. Menjawab pertanyaan para calo seperlunya. Mata Bi melebar, baru sadar bahwa sosok perempuan lah yang barusan bertanya padanya. Seorang calo perempuan, di antara rekannya para lelaki, di terminal, malam hari, sendiri.
Kali lain Bi juga menjumpai seorang kondektur bis perempuan. Kawannya pernah melihat tukang becak perempuan. Ekspor tenaga kerja murah ke luar negeri juga kebanyakan kaum hawa. Disana, di negeri yang jauh dari sanak saudara, adakah yang menjamin keamanan, keselamatan, dan kehormatan mereka? Mereka cuma punya diri mereka sendiri sebagai pembela. Hingga tak sedikit TKW yang pulang tinggal nama, atau berkurang keutuhan anggota badannya dan bahkan kehormatannya. Sebagai imbalan atas semua ini, disematkan pada diri mereka gelar pahlawan devisa.
Media dipenuhi perempuan sebagai daya tarik. Permintaan perusahaan akan tenaga terampil dan tenaga ahli perempuan semakin meningkat. Perempuan dinilai lebih telaten dan lebih menguntungkan dibandingkan laki-laki. Hingga jabatan-jabatan strategis di ranah publik pun diberikan pada kaum hawa. Mulai tukang hingga dekan. Mulai kondektur hingga presiden.

Malam hari, 27 April 2012

Bi tengah menyelesaikan tulisannya. Ups, kebelet pipis. Di depan TV, Bi berhenti, lupa dengan hasratnya ke kamar mandi. Bi tertarik dengan iklan layanan masyarakat di salah satu TV swasta. Layar memperlihatkan seorang pekerja pengantar ASI sedang mencari satu alamat. Dia menempuh perjalanan berliku dengan segala hambatannya. Ketika kemudian sampai di alamat yang dicari, seorang bapak muda membukakan pintu sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Anak dalam dekapan itulah yang akan meminum ASI yang dipompa dari dada ibunya yang sedang sibuk bekerja.
Bi ingin mengumpat kalau saja tak ingat ada dua malaikat yang merekam geraknya. Bi nelangsa, melihat betapa sistem telah menempatkan perempuan pada tempatnya yang paling rendah. Modernitas tidak mengenal perbudakan. Tapi, apa bedanya jika perempuan sekarang dianggap berharga dari seberapa banyak ia menghasilkan harta benda? Apa bedanya jika ia tak lagi punya hak untuk membina generasi, mencurahkan kasih sayang dan kelembutan pada buah hati? Inikah yang diinginkan Kartini?
Bukan ujug-ujug masyarakat terpapar ide-ide kesetaraan yang amburadul. Fenomena yang nampak dari beragam fragmen yang diamati Bi, sebenarnya merupakan ‘kesuksesan’ dari strategi promosi para pegiat gender. Dulu, akan dianggap anomali jika istri yang menjadi pencari nafkah sementara suaminya di rumah mengurus rumah tangga. Bukan suatu kewajaran ketika perempuan menjadi imam bagi lelaki. Hal-hal inilah yang dianggap kaum feminis sebagai budaya patriarki yang menempatkan laki-laki lebih berkuasa dibandingkan perempuan. Bahkan dianggap telah terjadi penindasan laki-laki terhadap perempuan. Berangkat dari paradigma tersebut, para pejuang kesetaraan gender melakukan berbagai transformasi ke seluruh dunia dengan PBB sebagai kendaraannya. Berbagai agenda berusaha disebarkan ke seluruh dunia mengatas namakan CEDAW (Convetion on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women) ato bahasa gaulnya Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
Bi telah mengendus modus operandinya. Indonesia misalnya, menerjemahkan CEDAW dengan RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. Dalam pasal 1 RUU KKG ini tertulis, keadilan gender didefinisikan sebagai satu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat, dan warga negara. Melihat isi pasal ini maka akan banyak sekali aturan Islam yang rawan dinilai sebagai aturan yang melanggar ‘keadilan gender’. Misalnya aturan berpakaian, larangan perempuan menjadi pemimpin negara, tanggung jawab keibuan, relasi suami istri, perkawinan, perwalian, ketentuan waris dan lainnya. Aturan-aturan ini dapat diterjemahkan sebagai aturan yang mengekang kebebasan perempuan sehingga Islam dilekatkan dengan bias patriarkis.
Bi sendiri baru mengkaji terkait pandangan Islam tentang perempuan. Bi baru tahu jika Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia. Perempuan, memang memiliki perbedaan dengan laki-laki. Namun, Islam tidak lantas menempatkan laki-laki pada posisi puncak, sementara perempuan di posisi subordinat. Tidak, sama sekali tidak demikian. Islam memahami segala perbedaan di antara laki-laki dan perempuan. Menempatkannya pada fitrah dan aturanNya adalah keadilan hakiki baik bagi perempuan maupun lelaki. Bukan setara dalam segala hal, namun berkesempatan sama dalam hal melaksanakan ketaqwaan sesuai dengan porsi yang sudah digariskan.
Sesungguhnya perempuan di mata Islam memiliki peranan supra strategis dalam melahirkan generasi, baik itu sebagai ibu generasi (ummu ajyal) maupun sebagai ibu dari anak-anaknya di rumah (ummu wa robbatul bait). Melihat peranan yang sangat strategis ini, Bi paham bahwa perempuan harus cerdas dan terdidik karena di tangan perempuanlah nasib generasi bangsa diletakkan. Bi baru ngeh kalo Islam punya rumusan yang lengkap dalam mencetak perempuan yang seperti ini. Bi jadi yakin bahwa Islam sanggup membawa manusia dari gelap menuju terang. Allah Sang Pencipta yang paling tahu posisi perempuan dan laki-laki yang mulia dan sesuai dengan fitrah manusia. Bi yakin akan itu semua. Dan Bi percaya akan janji Allah bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Bi memastikan diri sebagai bagian dari barisan perjuangan penerapan Islam  dalam seluruh aspek kehidupan. Pastikan dirimu juga yah!

Perjuangan Masyarakat Suriah

Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad dalam Musnad nya meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, "Dari umatku akan ada segolongan umat yang berdiri di atas ketetapan Allah, orang-orang yang berbeda dengan mereka atau yang mengabaikan mereka tidak akan sanggup mengganggu mereka hingga datang ketetapan dari Allah dan mereka berada diatasnya." Muadz bin Jabal ra. mengatakan, "Mereka berada di Syam"

Dimanapun Allah memberikan pertolongan-Nya dengan tegaknya Khilafah di belahan bumi mana saja, Indonesia harus segera bergabung dengan kekhilafahan yang akan menaunginya.
Aktivis mahasiswa, kemenangan itu kian dekat, kian dekat, kian dekat
Mari melipatgandakan kekuatan, songsong kebangkitan hakiki dengan tegaknya Khilafah!

‘Sekolah Utama’


Al-Ummu madrasah al-ula (Ibu adalah sekolah pertama [bagi anak-anaknya]). Kata-kata hikmah ini sudah lama kita dengar. Bukan hanya ‘sekolah pertama’, ibu sejatinya adalah ‘sekolah utama’ bagi putra-putrinya. Jika ada seseorang menjadi ulama, ilmuwan, tokoh ternama, atau pahlawan ksatria, maka lihatlah ibu mereka. Tentu karena ibu berperan besar dalam membentuk watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah mana pun.
Layaknya sekolah, ibu sejatinya adalah ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’ dan ‘wadah’ yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Hanya dari ‘sekolah’ semacam inilah lahir anak-anak yang shalih, cerdas, alim, berakhlak mulia, memiliki semangat jihad yang tinggi dan seluruh sifat-sifat agung Mukmin bertakwa. Pertanyaannya, sudahkah para ibu menjadi sekolah pertama dan utama; sebagai ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’, dan ‘wadah’ yang menghimpun seluruh sifat akhlak mulia? Jika belum, jangan harap dari mereka lahir anak-anak hebat; generasi Muslim istimewa dengan seluruh sifat kemuliaannya.
*****
Salah satu wanita yang tercatat dalam sejarah sebagai ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’ dan ‘wadah’ yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia adalah Ummu Sulaim ra. Ia adalah Ibunda Anas bin Malik ra.. Anas ra. pernah berkisah, sebagaimana dituturkan oleh Adz-Dzahabi: Suatu ketika Nabi saw. berkunjung ke rumah Ummu Sulaim ra. Nabi saw. menuju salah satu sisi rumahku, kemudian shalat sunnah dua rakaat dan mendoakan Ummu Sulaim ra. dan keluarganya. Lalu ibuku berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus untukmu.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Ibuku menjawab, “Orang yang siap membantu engkau. Dia Anas, anakku.” Seketika Rasulullah saw. memanjatkan doa-doa untukku hingga tak tersisa satu pun dari kebaikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku.
Alangkah besar kecintaan Ummu Sulaim ra. kepada Rasulullah saw. hingga ia rela menghadiahkan buah hatinya yang baru berumur delapan tahun kepada beliau.
*****
Ummu Sulaim ra. termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas ra. dan mewarnai perangainya.
Kecerdasan Ummu Sulaim ra. tampak, misalnya, saat ia hendak dilamar Abu Thalhah setelah suami pertamanya meninggal. Saat meminang dirinya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Karena itu Ummu Sulaim menolak pinangan Abu Thalhah sampai dia mau masuk Islam. “Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahi aku. Tidakkah engkau tahu, hai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu,” sindir Ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api, ia akan terbakar,” lanjutnya lagi.
Abu Thalhah pun berpaling dari rumah Ummu Sulaim ra. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim ra. tadi amat membekas di hatinya. “Benar juga,” gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. “Aku telah menerima agama yang kau tawarkan,” kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim ra. Lalu berlangsunglah pernikahan mereka berdua. “Ummu Sulaim tidak meminta mahar apapun selain keislaman Abu Thalhah,” kata Anas ra. dalam suatu riwayat.
Adapun ketabahan Ummu Sulaim ra. tampak saat salah seorang putranya kesayangannya meninggal. Nama putranya itu adalah Abu Umair. Abu Umair tidak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak. Anas ra. bercerita:
Suatu ketika Abu Umair sakit parah tatkala azan isya berkumandang. Seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke masjid. Dalam perjalanan ke masjid, Abu Umair dipanggil oleh Allah. Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian putra kesayangannya itu. Kemudian ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.
Sepulangnya dari masjid, seperti biasa Abu Thalhah ra. menyantap makan malamnya memudian menggauli istrinya. Di penghujung malam, Ummu Sulaim ra. berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu keluarga si fulan? Mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta mereka tidak mau mengembalikannya; merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.” Jawab Abu Thalhah, “Tentu mereka telah berlaku tidak adil.”. Ummu Sulaim ra. berkata lirih, “Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya kembali.” Jawab Abu Thalhah, “Inna lilLahi wa inna ilayhi raji’un.” Ia tampak pasrah.
Bagaimana dengan keberanian Ummu Sulaim ra.? Anas ra. menceritakan bahwa suatu ketika ayahnya, Abu Thalhah, berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika Perang Hunain. Abu Thalhah melihat di tangan Ummu Sulaim ada sebilah pisau. Abu Thalhah segera melaporkan hal itu kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim keluar rumah sambil membawa pisau,” kata Abu Thalhah.  Ummu Sulaim ra. berkata, “Ya Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekati aku.”
*****
Ummu Sulaim ra., sosok agung inilah yang melahirkan Anas bin Malik, salah satu dari tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Anas bin Malik ra. bahkan telah banyak ‘meluluskan’ ulama-ulama hebat dalam sejarah.  Tidak aneh karena Anas adalah seorang mufti, qari’muhaddits dan perawi. Anas bin Malik ra. banyak mencetak sejumlah ulama dan orang-orang penting di antaranya adalah Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy Sya’bi, Abu Kilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit al-Banani, Bakar bin Abdillah al-Mazani, az-Zuhri, Qatadah, Ibn al-Munkadir, dan masih banyak nama lainnya.
Jangan lupa, kehebatan dan keagungan Anas bin Malik ra. hingga melahirkan banyak tokoh Islam salah satunya karena keberhasilan ibundanya, Ummu Sulaim ra., dalam memerankan ‘sekolah pertama dan utama’ bagi putra kesayangannya itu sejak ia masih kanak-kanak. Bagaimana dengan para ibu Muslimah saat ini?
Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. [Arief B. Iskandar]

Selasa, 05 Februari 2013

Liputan Foxnews : Analisa Glenn Beck Tegaknya Khilafah di Depan Mata!


Glenn Beck expresses fear of new caliphate


Dunia benar-benar menuju khilafah. Mereka (Barat) melihat itu semakin dekat, semakin nyata, begitu menakutkan bagi peradaban Kapitalisme yang sudah diujung tanduk, mendekati kematiannya.
Dunia benar-benar menuju Khilafah. Gelombang umat menuntut tegaknya khilafah semakin mendunia, meluas, membesar, menggulung setiap penghalang. 
Muslim mahasiswa, tidakkah kalian ingin menyambut seruan perjuangan, mewujudkan Khilafah yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan???

Dua Potong Berita, Sepotong Kesadaran

Oktavia Nurul Hikmah
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga


Kehidupan tampak sempurna di hadapanku. Kesempatan kuliah, lingkungan yang aman, dan aktivitas organisasi yang menyenangkan. Boleh dikatakan biar IP pas-pasan,  setidaknya predikatku sebagai aktivis menjadi nilai lebih. Rapat pagi, siang dan malam. Ikut kongres disana sini. Sibuk mengajukan proposal sepanjang tahun. Itulah sebagian akivitas yang kulakukan di kampus selain kuliah.
            Liburan tiba. Ini saatnya rehat dari kepadatan aktivitas. Liburan di rumah lebih menyenangkan. Praktis kehidupan berubah 180 derajat. Makan, tidur, nonton TV, bantu  keluarga, nonton film, dan mengurus kebun. Kampus tidak masuk dalam list aktivitas sama sekali. Jangan protes Sob, di kampus toh tidak ada manusia.
            Nah, ini saatnya nonton TV. Program FTV yang ku tonton sedang iklan, jadi channel ku pindah. Wah, pas sedang ada berita penangkapan remaja umur 17 tahun. Perkara apa pikirku. Ternyata, remaja SMA ini ditangkap dengan tuduhan pengedaran pil koplo. Dia melakukan hal tersebut untuk memenuhi nafkah istrinya yang berumur 15 tahun. Mirisnya, dia mengedarkan pil haram tersebut kepada teman-temannya sesama pelajar. Astaghfirullah. Asli, aku baru menemui fakta seperti ini.
            Usai berita tersebut, disusul dengan berita penetapan status tersangka bagi Raffi Ahmad. Kamu pasti tahu juga Sob, kamu kan nggak pernah ketinggalan gosip^_^. Nah, narkoba yang dikonsumsi Raffi nih jenis baru dan belum masuk dalam perundang-undangan. Jadi, BNN juga kesulitan ‘menghukumi’ kasus Raffi ini. Sementara jagad artis berlomba memberikan dukungan, menganggap Raffi sebagai korban.
            Aku sebenarnya malas  berpikir Sob, kan sedang liburan. Tapi, melihat kedua berita tersebut membuatku merenung. Aku rasa ada perbedaan motivasi dari kedua peristiwa tersebut. Yang pertama melakukan aktivitas haram tesebut  karena desakan ekonomi, terdorong oleh tanggung jawab memenuhi nafkah keluarga dan terbatasnya kesempatan mencari nafkah halal. Yang kedua, jelas tidak ada masalah secara ekonomi. Yang terjadi adalah miskin iman dan rusaknya pergaulan. Akibatnya, ketika ada masalah atau tuntutan pekerjaan yang terlalu berat membuatnya bepaling pada obat-obatan haram.
            Berikutnya yang aneh, aku rasa kebingungan BNN menghukumi kasus Raffi tidak perlu terjadi. Jika kita hanya bersandar pada daftar obat-obatan terlarang dalam Undang-Undang memang kemungkinan lolos hukum  akan semakin besar. Karena faktanya, banyak nama-nama obat-obatan terlarang yang belum terdaftar  BNN. Disini, standar Islam cukup jelas dalam menghukumi hal ini, bahwa segala sesuatu yang memabukkan dan menenangkan hukumnya haram. Ini tertulis dalam sebuah hadits Nabi SAW. BNN tak perlu kesulitan dengan standar ini.
            Terus terang Sob, aku bingung dengan negeri ini. Berkoar-koar memerangi narkoba. Tapi di lapangan nol tindakan. Sempat berdiskusi dengan seorang teman di kampus, dia mengatakan bahwa presiden baru saja memberi grasi pada seorang terdakwa pengedar narkoba internasional. Dan ini bukan grasi yang pertama. Padahal, pengguna narkoba negeri ini sudah mencapai 5 juta orang (Kompas.com). Nah, dimana keseriusan menangani masalah narkoba jika presiden justru memberi ampunan pada pengedar narkoba kelas berat. Begitulah hukum jika distandarkan pada akal manusia seperti dalam alam demokrasi ini, sangat tidak adil. Dalam sistem demokrasi ini pula peluang jual beli hukum sangat terbuka lebar. Kongkalikong antara penguasa dan penjahat, maupun penguasa dan pengusaha menjadi sah-sah saja. Ah, sobat, tidakkah kalian muak dengan kondisi yang sangat menjijikkan ini??
            Aku jadi bertanya pula pada diri sendiri. Benarkah sudah cukup aktivitas yang kulakukan selama ini. Membatasi pada beragam kesibukan organisasi yang setelah kupikirkan pun jarang yang membidik macam-macam persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Jika dilakukan pun, miskin solusi yang mendasar. Jadi, biasanya kami hanya membahas tema-tema kebidangan sesuai ilmu yang kami pelajari di fakultas masing-masing. Padahal persoalan narkoba ini misalnya, takkan bisa diselesaikan dari sisi hukum saja. Karena toh terkait pula dengan ekonomi, budaya, pendidikan, politik dalam dan luar negeri,dll. Artinya, kita sebagai mahasiswa yang dianugerahi Allah intelektualitas yang lebih dibandingkan masyarakat harusnya melakukan pengkajian yang mendalam pula dalam hal ini serta mengajukan solusi mantap yang menyelesaikan masalah yang kompleks ini.
            Aku berpikir lagi, layakkah aku menganggap diri sebagai aktivis jika ternyata selama ini kiprahku di organisasi bahkan tidak menyentuh sedikitpun problem yang dihadapi masyarakat. Dan aku jadi benci pada diri sendiri karena menjadikan kehidupan kampus dan rumah perlu ada dikotomi. Artinya, seperti yang aku lakukan sekarang. Liburan di rumah berarti libur pula predikat ‘aktivis’ku. Haha, aku menertawai diri sendiri. Pada kesadaran yang baru muncul ini, aku setidaknya masih bersyukur. Masih sempat kesadaran itu muncul, meski terlambat.
            Baiklah Sobat, aku mesti memupuk kesadaran yang baru datang ini. Jika Islam punya jawaban atas persoalan narkoba, aku yakin Islam juga punya jawaban atas persoalan kehidupan lainnya. Aku mungkin belum mengerti, karena itu aku harus mengkajiIslam lebih dalam. So, thanks Raffi atas pembelajaran yag ku dapatkan dari kisahmu. Semoga ini menjadi pelajaran bagimu, serta menjadi tonggak awal perjuanganku melakukan perubahan revolusioner dengan Islam. And thanks Sob sudah menyimak ceritaku. Meniru semangat para Mujahidin Suriah di video yang ku tonton di Youtube, Allohu Akbar!  

Minggu, 03 Februari 2013

Paris Memperkirakan Bangkitnya Khilafah Islam di Suriah


Perancis memperingatkan bahwa kegagalan untuk memberikan uang tunai, dan senjata kepada kelompok oposisi Suriah akan meningkatkan pengaruh kelompok Islamis dalam perjuangan melawan Presiden Bashar al-Assad. Sementara yang lain mengkhawatirkan senjata-senjata itu jatuh ke tangan kelompok jihadis.
Sebagaimana yang diberitakan oleh www.middle-east-online.com (28/1), Aliansi oposisi utama Suriah hari Senin meminta uang tunai dan senjata kepada masyarakat internasional sehingga Perancis memperingatkan bahwa kegagalan untuk memberikan mereka apa yang diminta akan mendukung kelompok Islam dalam perang melawan Presiden Bashar al-Assad.
“Dengan runtuhnya negara dan masyarakat, adalah kelompok-kelompok Islam yang bisa mendapatkan pijakan jika kita tidak melakukan apa yang harus kita lakukan,” kata Menteri Luar Negeri Laurent Fabius pada pertemuan internasional di mana seorang pemimpin Koalisi Nasional Suriah (SNC) mengatakan organisasi itu membutuhkan $ 500 juta (370 juta euro) untuk mendirikan sebuah pemerintahan alternatif.
Pertemuan Paris mempertemukan para pemimpin SNC bersama-sama dengan para pejabat dari sekitar 50 negara.
“Kita tidak bisa membiarkan pemberontakan yang dimulai sebagai sebuah protes damai dan demokratis berubah menjadi konfrontasi antara kelompok milisi pesaing,” kata Fabius. “Konferensi ini harus mengirimkan sinyal yang jelas, (bahwa) kami memiliki satu tujuan konkret: memberikan Koalisi Nasional Suriah (SNC) suatu sarana untuk bertindak”
Perancis telah memimpin untuk mengakui SNC secara internasional sebagai wakil sah rakyat Suriah.
Namun kredibilitas aliansi oposisi ini telah rusak oleh banyaknya bukti bahwa kelompok Islam memainkan peran sentral dalam kampanye melawan Assad.
“Rakyat Suriah terlibat dalam pertempuran sengit. Waktu tidak berpihak kepada kami dan semakin panjangnya konflik hanya akan mengakibatkan bencana bagi wilayah itu dan dunia.,” kata Wakil Presiden SNC, Riad Seif.
“Kita tidak perlu janji-janji yang akan dilanggar lagi,” tambahnya.
George Sabra, Kepala Dewan Nasional Suriah, yang merupakan badan utama dalam koalisi, mengatakan oposisi sangat membutuhkan uang tunai dan senjata.
“Kami membutuhkan minimal 500 juta dolar untuk bisa membentuk pemerintahan,” katanya. “Dan kami membutuhkan senjata, senjata dan lebih banyak lagi senjata.”
Pemerintahan negara-negara Eropa dilarang memberikan senjata kepada kedua belah pihak yang berkonflik di Suriah karena embargo senjata dari Uni Eropa. Meskipun embargo akan ditinjau ulang bulan depan, diperkirakan hal ini tidak akan berkurang karena kekhawatiran bahwa senjata-senjata itu dapat jatuh ke tangan kelompok jihadis.
Kelompok “Friends of Suriah” yang terdiri dari negara-negara Arab dan Barat disetujui pada bulan Desember setuju untuk memberikan uang tunai bernilai total $ 145 juta sebagai dukungan untuk kelompok oposisi, dimana dua-pertiga dari jumlah itu berasal dari Arab Saudi, namun uang itu belum diberikan.
SNC dibentuk pada bulan November dengan berbagai komponennya yang mengatakan bahwa mereka akan berjuang di bawah komando militer yang terpadu.
Namun, kelompok-kelompok Islam telah menolak untuk bergabung dalam koalisi itu, dan mengatakan bahwa tujuan mereka adalah membentuk sebuah negara Islam untuk menggantikan rezim Assad. (rz)